Review A Head Full of Dreams

Ketika sutradara Matt Whitecross membuka film dengan rekaman video (footage) keempat personel Coldplay berlangsung di lorong sempit sebelum menginjak panggung–disertai voice-over  Chris Martin yang berpesan: "Jangan buka filmnya dengan footage kami menginjak panggung!"– saya sudah mengasumsikan dokumenter ini bakal jadi tontonan yang menghibur dan lucu.

Namun, apakah substansi dokumenter bakal dikorbankan demi menghibur dan lucu?

Coldplay: A Head Full Of Dreams ialah film dokumenter yang menyajikan 20 tahun perjalanan Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland, dan Will Champion dari band yang tadinya cuma rekaman demo di kamar asrama mahasiswa menjadi Coldplay, band rock yang memenuhi penuh stadion tiap kali mereka konser.

1. Coldplay: AHFOD adalahhasil dari "syuting" sekitar dua dekade

Kesan bengong yang pemirsa rasakan pasti saja kepada dokumentasi video Whitecross. Sutradara sekaligus teman untuk anggota Coldplay ini sudah muncul sejak band asal Inggris tersebut masih mempunyai nama Starfish.

Ketekunannya mengabadikan momen-momen spesial Coldplay–latihan dan gigs kesatu, ganti nama, teken kontrak rekaman dan ribuan konser–baru berbuah manis dua dasawarsa kemudian ketika A Head Full of Dreams, tanpa saya sangka, menjadi dokumenter yang tak melulu menghibur namun pun sangat intim.

2. Berisi footage yang belum pernah diluncurkan sebelumnya

Dokumenter musik dengan judul yang sama dengan nama album atau tur seringkali hanya mengandung penampilan band di atas panggung yang diselingi dengan wawancara seadanya dan kejadian-kejadian konyol sekitar perjalanan.

Beberapa footage bahkan terlampau "ajaib" guna dipercaya. Seperti ketika Martin berbicara pada kamera di tahun 1998, "Kami bakal jadi band yang spektakuler besar! Kami bakal ditayangkan televisi nasional dalam masa-masa empat tahun. Empat tahun!" Dan bang, empat tahun dan tiga hari lantas mereka tampil di Glastonbury Festival sebagai artis utama.

3. Kisah perjalanan band (dan tidak banyak drama personel) jadi pesona utama

Tak dapat dimungkiri bila film ini menanam Martin sebagai suara utama dari Coldplay. Terlepas dari posisinya sebagai penyanyi, dia memang diberkati dengan skill komunikasi yang tidak banyak lebih baik daripada teman seband lainnya. Dia dapat bercanda, serius, jujur, bahkan agak puitis dalam mengucapkan pandangannya.

Penyanyi berusia 41 tahun tersebut jadi sorotan nyaris di masing-masing frame, terutama saat film mengisahkan hubungannya dengan aktris Gwyneth Paltrow, yang mesti dinyatakan anggota band, memindahkan perhatian publik dari musik dan karya mereka.

Saking padatnya wawancara yang menyertai tiap footage, penonton tentu akan kendala membedakan tiap-tiap suara andai tidak ada artikel siapa yang sedang bicara di layar.

4. Sebuah band yang menjadi "keluarga"

Kekuatan utama A Head Full of Dreams ialah usaha Coldplay untuk mengaku bahwa kesuksesan mereka muncul berkat keragaman watak yang terdapat di dalam band, manajemen dan kru. Meski bertolak belakang pandangan, mereka tidak jarang kali satu. Seperti keluarga.

Bahkan, sering Coldplay menyinggung diri mereka "kami berlima" untuk mencerminkan bahwa Phil Harvey–teman semasa kuliah yang sempat menjadi manager Coldplay– pun bagian dari "keluarga" tersebut.

Di samping dari kritik di atas, Coldplay: A Head Full of Dreams adalahfilm yang paling menghibur dan tidak akan melemparkan waktu penonton, baik dia peminat maupun bukan. Rating 3/5 sesuai untuk mencerminkan kualitas dokumenter ini.