Review Film Generasi Micin

Film komedi yang enteng dan relate banget sama kehidupan sehari-hari, Generasi Micin dapat banget jadi opsi tontonan yang menghibur. Tayang mulai 18 Oktober di bioskop, film yang disutradari oleh Fajar Nugros akan sukses membuatmu tertawa terbahak-bahak.

Selain mengangkat tema yang memang relate banget, Generasi Micin juga dibintangi oleh figur papan atas yang punya keterampilan akting yang telah matang laksana Kevin Anggara, Melissa Karim, Ferry Salim dan Morgan Oey.

Berikut ialah review film Generasi Micin yang telah Dunia Film rangkum. Baca dulu deh baru kamu dapat tentukan akan menyaksikan film ini atau tidak.

1. Hari kesatu di tahun terakhir sekolah

Kevin, memandang kehidupan sekolahnya sama sekali tidak punya kemajuan. Hanya begitu-begitu saja, dirinya paling tidak energik datang ke sekolah walau sudah terdapat Bonbon (Teuku Rizky), Dimas (Joshua Suherman) dan Johanna (Kamasean Matthews) yang menemani. Tidak pun Chelsea (Clairine Clay) dapat menghiburnya. Rutinitasnya melulu sekolah, main game, makan, main game dan tidur, tidak terdapat yang menarik.

2. Website yang buat hari-hari menjemukan di sekolah jadi seru

Sampai sebuah hari, Kevin merasa bakal ada yang mengolah kehidupan membosankannya tersebut. Yaitu situs misterius yang menantangnya untuk mengerjakan hal-hal iseng di sekolah. Saking gabut dan tak tahu mesti melakukan apa, Kevin menerima masing-masing tantangan yang diserahkan dan menyuruh tiga temannya guna ikut kendala juga.

3. Persahabatan masa SMA

Di situlah mereka berempat mengindikasikan bahwa persahabatan mereka memang militan. Dalam suasana senang atau terjepit, keempatnya tidak jarang kali bahu-membahu. Semua kendala website misterius jadi sehari-hari paten yang buat hidup mereka semakin seru dan menantang.

4. Kevin dan Super Student Cup

Kelewat asik jalani tantangan, Kevin dan tiga sahabatnya mesti rela terima konsekuensi keisengan mereka. Penyesalan memang datangnya terakhir, sama laksana yang Kevin alami. Tapi, dia tidak kabur dan menjalani hukuman dengan berani. Kevin dan kawan-kawannya pulang lagi ke sekolah sebagai murid yang bertanggung jawab guna Super Student Cup, lomba tahunan antar SMA.

5. Kenangan estetis anti terlupakan

Kevin dkk kemudian berjuang untuk re-branding sekolah mereka yang telah jelek di mata umum. Dengan pertolongan teknologi yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, nama sekolah pulang bersih dengan prestasi. Kevin, Bonbon, Dimas dan Johanna mengindikasikan kebolehan di bidang setiap dan dapat membuat bangga seluruh orang.

Generasi Micin punya ide kisah yang menarik. Kenapa? Karena film ini aplikatif dan cocok dengan kehidupan millennial dan gen z zaman sekarang. Bukan melulu itu, film ini pun mengusung semua generasi gadget dengan mengatasnamakan prestasi, bahwa gen z dapat mengeluarkan karya dengan metodenya sendiri yakni teknik yang lebih canggih.

Film ini sukses menggugah pemikiran orang yang beranggapan bahwa gadget membawa akibat negatif melulu. Soal penokohan, akting Melissa Karim dan Ferry Salim yang paling dapat ngakak. Joshua Suherman sebagai Oppa Dimas pun hits dan tak dapat dilupakan. Uniknya lagi, terdapat Kamasean yang ternyata punya akting yang baik debut kesatunya. Clairine Clay sebagai pemeran utama kadang masih tampak kaku dan perlu belajar lagi. Sisanya, pemeran Generasi Micin ini telah tepat dan punya chemistry yang oke.

Ditutup dengan soundtrack dari Kamasean Matthews berjudul If Only, Generasi Micin berhasil menghibur dan layak disaksikan saat santai. Komedinya pun fresh dan sukses buat senang, dapat lah masuk susunan film yang akan anda tonton.

Dari semua benang merah di atas, Dunia Film menyerahkan skor 6.5/10 guna Generasi Micin. Jadi gimana nih? Kamu tertarik nonton gak?