Review Bohemian Rhapsody

Agar dapat mengetahui sebuah mahakarya secara utuh, kadang anda harus mengasingkan sang artis dari produk seninya. Anggapan itu tidak berlaku untuk Freddie Mercury dan lagu Bohemian Rhapsody.

Bohemian Rhapsody ialah lagu berdurasi nyaris enam menit; dimulai dengan dentingan piano melankolis dan selesai dengan pukulan gong megah. Melodi pop, riff gitar berat serta sentuhan opera secara magis bersahut-sahutan mengecat dinamika lagu.

Jika anda pernah menyaksikan video Brian May mengisahkan ulang alangkah menjelimetnya proses rekaman Bohemian Rhapsody–bunyi gitar berlapis-lapis, overdub vokal dan tetek bengeknya–kamu bakal mengerti mengapa Bohemian Rhapsody ini dinamakan “Freddie banget”: gemerlap perfeksionis.

Lain kisah jika menonton film Bohemian Rhapsody buatan 20th Century Fox, anda akan sadar bila karya yang satu ini ialah usaha untuk mengisahkan versi aman dari pasang surut di antara band rock terbesar dalam sejarah, Queen. Mengingat Brian May dan Roger Taylor (yang asli) beraksi sebagai "konsultan kreatif" guna film ini, maka tidak heran bila baik dan buruk Queen tidak dikisahkan secara gamblang.

1. Perjalanan Queen dari mula terbentuk

Kisah Bohemian Rhapsody berawal di London era 1970-an ketika Farrokh Bulsara, seorang petugas bagasi di bandara Heathrow, mengubah namanya menjadi Freddie Mercury untuk menegakkan band rock bareng gitaris Brian May, drummer Roger Taylor, dan basis John Deacon.

Kesuksesan Queen mengirimkan mereka pada kontrak rekaman dengan EMI. Tak lama, laksana band rock familiar lainnya, Queen memainkan konser-konser laris di penjuru dunia.

Ketenaran, gaya hidup gemerlap serta orientasi seksual Freddie Mercury pelan-pelan menggerogoti keberadaan Queen. Konflik utama dalam film ini (niatnya) ialah perjuangan Queen menanggulangi semua efek samping dari kemasyhuran.

2. Penceritaan yang serba tanggung

Biopik ini seakan ragu-ragu guna memilih konsentrasi cerita, mengenai Queen atau Freddie yang maha ikonik. Hasilnya, masing-masing bab urgen dari perjalanan Queen (dan Freddie) di film ini tersaji tetapi tidak memuaskan, kentang alias kena tanggung.

Bagaimana Queen terbentuk sesudah band Smile bubar? Kentang. Tidak dicerminkan bagaimana John Deacon bergabung atau saat Freddie mendesain logo Queen.

Seperti apa proses kreatif rekaman Bohemian Rhapsody? Kentang, bahkan terburu-buru guna ukuran suatu lagu rock hit sepanjang masa yang dipilih sebagai judul film.

Hubungan personal antara Freddie dan Mary Austin juga dicerminkan seadanya. Yang anda tahu hanya kenyataan bahwa mereka masih berteman baik–tanpa mengeksplorasi dalil kenapa Mary tetap peduli walau Freddie selingkuh dengan lelaki lain.

Namun fans tidak dapat sepenuhnya menyalahkan film ini menilik apa yang terjadi di balik layar produksi. Fox memecat sutradara Bryan Singer di tengah-tengah produksi dampak perselisihan dengan aktor Rami Malek (Freddie Mercury). Nama Brian Singer tetap mendapat kredit sebagai sutradara, tapi buatan dan pasca-produksi film kesudahannya dirampungkan oleh Dexter Fletcher.

Rami Malek pun sebetulnya bukan opsi kesatu untuk memerankan Bohemian Rhapsody karena tadinya komedian Sacha Baron Cohen yang didapuk sebagai pemeran utama pada 2010 sebelum kesudahannya mundur dari proyek.

3. Tidak spektakuler namun tetap pantas tonton

Terlepas dari kontroversi di balik layar dan penceritaan yang serba tanggung, Bohemian Rhapsody tetaplah drama biopik yang pantas tonton, baik buat peminat Queen maupun bukan.

Akting Rami Malek menghidupkan pulang persona Freddie Mercury yang paling berwarna dan gemilang di depan publik tetapi kesepian dan naif dalam kesendiriannya. Jika saja Bohemian Rhapsody ialah film sekaliber Oscar, barangkali Rami dapat menyabet penghargaan aktor terbaik.

Penampilan aktor dan aktris pendukung pun tak kalah apik. Sama laksana lagu-lagu hit Queen yang berjejalan di sepanjang film, peran mereka menciptakan Bohemian Rhapsody gampang dinikmati.

Sejumlah adegan pun dieksekusi dengan cerdas dan memorable, laksana argumen sengit antara Queen dan eksekutif rekaman EMI Ray Foster (diperankan oleh Mike Myers) menghadirkan meta-joke yang dapat kamu lewatkan andai tidak jeli. Dan, pasti saja, adegan reka ulang penampilan legendaris Queen di konser Live Aid yang buat penonton di bioskop (jika tahu lagunya) jadi ikut bernyanyi.

Untuk film ini Dunia Film menyerahkan skor 3/5. Kamu tertarik untuk menguras waktu weekend-mu menonton Bohemian Rhapsody?